Syawir Putri Kitab Taqrib || Edisi I || Kitab Thaharah || Kamis, 07 Mei 2026


Syawir Putri Kitab Taqrib || Edisi I - Kitab Thaharah

 

اَلْمِيَاهُ الَّتِي يَجُوزُ التَّطْهِيرُ بِهَا سَبْعُ مِيَاهٍ: مَاءُ السَّمَاءِ، وَمَاءُ الْبَحْرِ، وَمَاءُ النَّهْرِ، وَمَاءُ الْبِئْرِ، وَمَاءُ الْعَيْنِ، وَمَاءُ الثَّلْجِ، وَمَاءُ الْبَرَدِ.

Air yang boleh digunakan untuk bersuci ada tujuh macam:

  1. Air langit

  2. Air laut

  3. Air sungai

  4. Air sumur

  5. Air sumber

  6. Air salju (es)

  7. Air embun

ثُمَّ الْمِيَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ غَيْرُ مَكْرُوهٍ وَهُوَ الْمَاءُ الْمُطْلَقُ، وَطَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوهٍ وَهُوَ الْمَاءُ الْمُشَمَّسُ، وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ وَهُوَ الْمَاءُ الْمُسْتَعْمَلُ وَالْمُتَغَيِّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ، وَمَاءٌ نَجِسٌ وَهُوَ الَّذِي حَلَّتْ فِيهِ نَجَاسَةٌ وَهُوَ دُونَ الْقُلَّتَيْنِ أَوْ كَانَ قُلَّتَيْنِ فَتَغَيَّرَ، وَالْقُلَّتَانِ: خَمْسُ مِائَةِ رِطْلٍ بَغْدَادِيٍّ تَقْرِيبًا فِي الْأَصَحِّ.

Air dibagi menjadi empat macam:

  1. Air suci dan menyucikan yang tidak makruh penggunaannya, yaitu air mutlak.

  2. Air suci dan menyucikan yang makruh penggunaannya, yaitu air musyammas (air yang terkena panas matahari).

  3. Air suci dan tidak mensucikan karena sebab lain yaitu air musta’mal (air yang telah digunakan untuk bersuci) dan air yang berubah karena bercampur dengan benda suci.

  4. Air najis, yaitu air yang terkena najis apabila jumlahnya kurang dari dua qullah atau mencapai dua qullah tetapi berubah sifatnya. Ukuran dua qullah menurut qaul ashah kira-kira 500 rithl Baghdad atau sekitar ±200 liter.


Musykilat:

  1. Apa yang dimaksud air mutlak?

Air mutlak adalah air yang tetap disebut “air” secara umum tanpa disandarkan kepada nama lain. Misalnya air sumur, air laut, air sungai. Meskipun memiliki tempat asal berbeda, tetap disebut air. Sedangkan air teh, air semangka, air mawar tidak disebut air mutlak karena sudah terikat dengan nama lain.


قَوْلُهُ : ( الْمَاءُ الْمُطْلَقُ ) هُوَ مَا يُسَمَّى مَاءً بِلَا قَيْدٍ لَازِمٍ عِنْدَ الْعَالِمِ بِحَالِهِ مِنْ أَهْلِ الْعُرْفِ وَاللِّسَانِ ؛ لِيَخْرُجَ : الْمُسْتَعْمَلُ وَالْمُتَنَجِّسُ بِمُجَرَّدِ الْمُلَاقَاةِ ؛ لِأَنَّ مَنْ عَلِمَ بِحَالِهِمَا مِمَّنْ ذُكِرَ لَا يُسَمِّيهِمَا مَاءً بِلَا قَيْدٍ ، وَلِيَدْخُلَ : الْمُتَغَيِّرُ كَثِيرًا بِمَا فِي الْمَقَرِّ وَالْمَمَرِّ مَثَلًا ؛ فَإِنَّ أَهْلَ الْعُرْفِ وَاللِّسَانِ يُطْلِقُونَ عَلَيْهِ اسْمَ مَاءٍ بِلَا قَيْدٍ مَعَ عِلْمِهِمْ بِحَالِهِ ، فَهُوَ مُطْلَقٌ ، خِلَافًا لِمَنْ جَعَلَهُ غَيْرَ مُطْلَقٍ ، وَإِنَّمَا أُعْطِيَ حُكْمَهُ تَسْهِيلًا عَلَى الْعِبَادِ. (حاشية الباجوري على شرح العلامة ابن قاسم على متن أبي شجاع، ج ۱، ص٥٣)


  1. Bedanya air sumur dengan air sumber?

Air sumur yaitu air yang keluar karena ada usaha manusia (digali, dibor, atau dibuat sumurnya).


قَوْلُهُ : ( وَمَاءُ الْبِئْرِ ) الْإِضَافَةُ عَلَى مَعْنَى  مِنْ  أَيْ : الْمَاءُ النَّابِعُ مِنْهَا ، وَ الْبِئْرُ هُوَ الثَّقْبُ الْمُسْتَدِيرُ النَّازِلُ فِي الْأَرْضِ ، سَوَاءٌ كَانَ مَطْوِيًّا أَوْ لَا ؛ فَالْمَطْوِيُّ : هُوَ الْمَبْنِيُّ ، وَغَيْرُ الْمَطْوِيِّ : غَيْرُ الْمَبْنِيِّ ، وَيُقَالُ لَهُ : ثَمَدٌ بِالْمُثَلَّثَةِ. (حاشية الباجوري على شرح العلامة ابن قاسم على متن أبي شجاع، ج ۱، ص ٥١)


Sedangkan air sumber yaitu air yang keluar alami dari dalam bumi, seperti dari bebatuan, tanah, atau celah gunung, tanpa perlu digali terlebih dahulu.


قَوْلُهُ : ( وَمَاءُ الْعَيْنِ ) الْإِضَافَةُ عَلَى مَعْنَى ( مِنْ ) كَسَابِقِهِ ؛ أَيِ : الْمَاءُ النَّابِعُ مِنَ الْعَيْنِ ؛ وَهِيَ الشَّقُّ فِي الْأَرْضِ أَوْ فِي الْجَبَلِ يَنْبَعُ مِنْهُ الْمَاءُ عَلَى سَطْحِهَا مِنْ غَيْرِ اسْتِدَارَةٍ : كَعَيْنِ الصِّيرَةِ الْمَعْرُوفَةِ بِالْقَرَافَةِ. (حاشية الباجوري على شرح العلامة ابن قاسم على متن أبي شجاع، ج ۱، ص ٥١)


  1. Mengapa air musyammas dimakruhkan penggunaannya untuk bersuci?

Sebagian ulama memakruhkan penggunaan air musyammas karena dikhawatirkan menimbulkan gangguan pada kulit seperti belang atau penyakit kulit. Dalam kitab Kifayah al-Akhyar dijelaskan bahwa kemakruhan berlaku apabila:

  1. Dipanaskan dalam wadah logam tertentu seperti besi, tembaga, timah, dan semisalnya, karena dikhawatirkan muncul zat yang berbahaya bagi kulit. Tidak makruh apabila berada di wadah tanah, kolam, emas, atau perak.

  2. Terjadi di daerah yang sangat panas karena pengaruh panas matahari lebih kuat. Sedangkan di daerah dingin atau sedang, pengaruhnya dianggap lemah.  

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa dalil tentang kemakruhan air musyammas banyak diperselisihkan bahkan sebagian hadisnya dinilai lemah. Karena itu sebagian ulama berpendapat bahwa air musyammas sebenarnya tidak makruh. Namun jika mengikuti pendapat yang memakruhkan maka hukumnya hanya makruh tanzih.


(نَهَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا عَنِ الْمُشَمَّسِ وَقَالَ: «إِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ»، وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ اغْتَسَلَ بِمَاءٍ مُشَمَّسٍ فَأَصَابَهُ وَضَحٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ»، وَكَرِهَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ وَقَالَ: «إِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ»؛ فَعَلَى هَذَا إِنَّمَا يُكْرَهُ الْمُشَمَّسُ بِشَرْطَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ التَّشْمِيسُ فِي الْأَوَانِي الْمُنْطَبِعَةِ كَالنُّحَاسِ وَالْحَدِيدِ وَالرَّصَاصِ؛ لِأَنَّ الشَّمْسَ إِذَا أَثَّرَتْ فِيهَا خَرَجَ مِنْهَا زُهُومَةٌ تَعْلُو عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ، وَمِنْهَا يَتَوَلَّدُ الْبَرَصُ، وَلَا يَتَأَتَّى ذَلِكَ فِي إِنَاءِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ لِصَفَاءِ جَوْهَرِهِمَا، لَكِنَّهُ يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُهُمَا عَلَى مَا يَأْتِي ذِكْرُهُ، فَلَوْ صُبَّ الْمَاءُ الْمُشَمَّسُ مِنْ إِنَاءِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فِي إِنَاءٍ مُبَاحٍ لَا يُكْرَهُ لِفَقْدِ الزُّهُومَةِ، وَكَذَا لَا يُكْرَهُ فِي أَوَانِي الْخَزَفِ وَغَيْرِهَا لِفَقْدِ الْعِلَّةِ. الشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَقَعَ التَّشْمِيسُ فِي الْبِلَادِ الشَّدِيدَةِ الْحَرَارَةِ دُونَ الْبَارِدَةِ وَالْمُعْتَدِلَةِ؛ فَإِنَّ تَأْثِيرَ الشَّمْسِ فِيهِمَا ضَعِيفٌ، وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يُقْصَدَ التَّشْمِيسُ أَمْ لَا لِوُجُودِ الْمَحْذُورِ، وَلَا يُكْرَهُ الْمُشَمَّسُ فِي الْحِيَاضِ وَالْبِرَكِ بِلَا خِلَافٍ). (كفاية الاخيار في حل غاية الاختصار: ص٧)


  1. Bagaimana cara bersuci dengan air embun?

Istilah “air embun” dalam pembahasan kitab Taqrib disebut dengan ماء البرد. Maknanya tidak sepenuhnya sama dengan embun yang biasa dipahami dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Air ini lebih dikenal sebagai butiran air yang membeku di udara lalu turun dari langit, seperti hujan es kecil, dan biasanya terjadi di daerah dengan cuaca atau suhu tertentu seperti kawasan Arab. Yang dimaksud dengan ماء البرد  yaitu air yang turun dari langit dalam keadaan membeku seperti garam, kemudian mencair ketika sampai di bumi. Sebagian ulama menjelaskan bahwa salju dan barad sama-sama asalnya berupa air cair dari langit, hanya saja salju membeku di udara dan tetap membeku, sedangkan barad membeku di udara lalu mencair kembali.


وَقَوْلُهُ : ( وَمَاءُ الْبَرَدِ ) بِفَتْحِ الرَّاءِ ؛ وَهُوَ النَّازِلُ مِنَ السَّمَاءِ جَامِدًا كَالْمِلْحِ ، ثُمَّ يَنْمَاعُ عَلَى الأَرْضِ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : ( إِنَّ كُلًّا مِنَ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ مَائِعًا ، إِلَّا أَنَّ الثَّلْجَ يَعْرِضُ لَهُ الْجُمُودُ فِي الْهَوَاءِ وَيَسْتَمِرُّ ، وَالْبَرَدَ يَعْرِضُ لَهُ الْجُمُودُ فِي الْهَوَاءِ وَيَنْمَاعُ ) . فَإِنْ قِيلَ : هُمَا مِنْ مَاءِ السَّمَاءِ فَلَا حَاجَةَ إِلَى ذِكْرِهِمَا مَعَ دُخُولِهِمَا فِيهِ ؟ أُجِيبَ : بِأَنَّ وَصْفَ الْجُمُودِ مَيَّزَهُمَا عَنْهُ خُصُوصًا بِالتَّسْمِيَةِ الْمَذْكُورَةِ. (حاشية الباجوري على شرح العلامة ابن قاسم على متن أبي شجاع، ج ۱، ص ٥١)


Karena al-barad pada asalnya merupakan air langit dan tetap dihukumi sebagai air mutlak, maka cara menggunakannya untuk bersuci ialah dikumpulkan terlebih dahulu setelah mencair, kemudian ditempatkan dalam wadah dan digunakan sebagaimana air biasa untuk wudhu atau mandi.


Contact Person: Munawarotul Bashiroh (0819-1216-7915)


Posting Komentar untuk "Syawir Putri Kitab Taqrib || Edisi I || Kitab Thaharah || Kamis, 07 Mei 2026"