Syawir putri || Fathul Qarib || Bab Tembelan emas dan perak || Kantor pusat putri || 24 Juli 2025


SYAWIR FATHUL QORIB PUTRI KE-07 Lanjutan Bab :

فِي بَيَانِ مَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُهُ مِنَ الْأَوَانِي وَمَا يَجُوزُ

Wadah yang haram digunakan dan yang boleh digunakan

وَيَحْرُمُ أَيْضًا الإِنَاءُ الْمَطْلِيُّ بِذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ إِنْ حَصَلَ مِنَ الطِّلَاءِ شَيْءٌ بِعَرْضِهِ عَلَى النَّارِ.

Dan diharamkan pula bejana yang dilapisi dengan emas atau perak, jika dari lapisan itu dapat keluar (mencair) sesuatu ketika dipanaskan di atas api.

(وَيَجُوزُ اسْتِعْمَالُ) إِنَاءٍ (غَيْرِهِمَا) أَيْ غَيْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ (مِنَ الأَوَانِي) النَّفِيسَةِ، كَإِنَاءِ يَاقُوتٍ.

(Boleh menggunakan) bejana selain keduanya, yaitu selain emas dan perak, dari bejana-bejana mewah, seperti bejana yang terbuat dari batu yakut (permata mulia).

وَيَحْرُمُ الإِنَاءُ الْمُضَبَّبُ بِضَبَّةِ فِضَّةٍ كَبِيرَةٍ عُرْفًا لِزِينَةٍ؛ فَإِنْ كَانَتْ كَبِيرَةً لِحَاجَةٍ جَازَ مَعَ الْكَرَاهَةِ، أَوْ صَغِيرَةً عُرْفًا لِزِينَةٍ كُرِهَتْ، أَوْ لِحَاجَةٍ فَلَا تُكْرَهْ.

Diharamkan pula bejana yang diberi tambalan (pengikat/penyambung) dari perak yang besar secara ‘urf (kebiasaan masyarakat), jika tujuannya untuk perhiasan. Namun, jika besar karena kebutuhan, maka boleh namun makruh; jika kecil menurut ‘urf untuk perhiasan, maka makruh; dan jika karena kebutuhan, maka tidak makruh.

أَمَّا ضَبَّةُ الذَّهَبِ فَتَحْرُمُ مُطْلَقًا، كَمَا صَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ.

Adapun tambalan dari emas, maka haram secara mutlak, sebagaimana dipastikan keabsahannya oleh Imam Nawawi.

Musykilat

  1. Apa hukum menggunakan wadah yang harganya mahal dan mewah yang tidak terbuat dari emas dan perak dan Apa alasannya?

Terdapat dua pendapat:

  1. Haram

Pendapat ini diriwayatkan dari Harmalah bahwa penggunaannya tidak boleh, karena dianggap lebih boros (lebih menunjukkan kemewahan) daripada emas dan perak, maka keharamannya lebih utama (lebih layak dihukumi haram).

  1. Mubah

Pendapat ini diriwayatkan dari al-Muzanī bahwa penggunaannya dibolehkan, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat (ashah), karena unsur pemborosan dalam penggunaannya tidak tampak jelas, sebab hanya orang-orang tertentu (kalangan elit/khawash) saja yang mengenal nilainya.

[المهذب في فقة الإمام الشافعي للشيرازي، ج ١ ص ٣٠]

وأمَّا أَوَانِي البَلُّورِ وَالفَيْرُوزَجِ وَمَا أَشْبَهَهُمَا مِنَ الأَجْنَاسِ المُثَمَّنَةِ فَفِيهِ قَوْلَانِ: رَوَى حَرْمَلَةُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ، لِأَنَّهُ أَعْظَمُ فِي السَّرَفِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، فَهُوَ بِالتَّحْرِيمِ أَوْلَى .وَرَوَى الْمُزَنِيُّ أَنَّهُ يَجُوزُ، وَهُوَ الأَصَحُّ، لِأَنَّ السَّرَفَ فِيهِ غَيْرُ ظَاهِرٍ، لِأَنَّهُ لَا يَعْرِفُهُ إِلَّا الْخَوَاصُّ مِنَ النَّاسِ. 

  1. Apa saja dalil-dalil terkait hukum-hukum tambalan?

bejana yang diberi tambalan (pengikat) dari emas, maka haram, baik sedikit maupun banyak, berdasarkan sabda Nabi ﷺ tentang emas dan sutra:

إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي، حِلٌّ لِإِنَاثِهَا

"Sesungguhnya dua hal ini haram bagi laki-laki umatku, dan halal bagi perempuan mereka."

Namun, jika dalam keadaan darurat, maka boleh, berdasarkan riwayat bahwa:

أَنَّ عُرْفَجَةَ بْنَ أَسْعَدَ أُصِيبَ أَنْفُهُ يَوْمَ الكلاب، 

فَاتَّخَذَ أَنْفًا مِنْ وَرِقٍ فَأَنْتَنَ عَلَيْهِ، فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ ﷺ أَنْ يَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ.

‘Urfajah bin As‘ad mengalami luka pada hidungnya dalam perang al-Kilāb, lalu ia membuat hidung dari perak, tetapi membusuk, lalu Nabi ﷺ memerintahkannya untuk membuat hidung dari emas.

bejana bertambal perak:

  1. Jika sedikit dan karena kebutuhan, maka tidak makruh, berdasarkan riwayat dari Anas:

أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ ﷺ انْكَسَرَ، فَاتُّخِذَ مَكَانَ الشَّفَةِ سِلْسِلَةٌ مِنْ فِضَّةٍ

Bejana Nabi ﷺ pecah, lalu diganti bagian bibirnya dengan rantai dari perak.

  1. Jika karena perhiasan (hiasan), maka makruh, karena tidak ada kebutuhan, namun tidak haram, berdasarkan riwayat:

كَانَ نَعْلُ سَيْفِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ فِضَّةٍ، وَقَبِيعَةُ سَيْفِهِ فِضَّةٌ، وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ حَلَقُ فِضَّةٍ

Sandal pedang Rasulullah ﷺ dari perak, gagangnya dari perak, dan di antara keduanya terdapat lingkaran-lingkaran perak.

  1. Jika banyak namun karena kebutuhan, maka makruh karena banyaknya, namun tidak haram karena masih dalam kondisi darurat.

  2. Jika banyak dan untuk perhiasan, maka haram, berdasarkan ucapan Ibn ‘Umar:

لَا يَتَوَضَّأُ وَلَا يَشْرَبُ مِنْ قَدَحٍ فِيهِ حَلْقَةٌ مِنْ فِضَّةٍ أَوْ ضَبَّةٌ مِنْ فِضَّةٍ

“Tidak boleh berwudhu dan tidak boleh minum dari bejana yang ada lingkaran atau tambalan perak.”

[المهذب في فقة الإمام الشافعي للشيرازي، ج ١ ص ٣١]

وأمَّا المُضَبَّبُ بالذَّهَبِ، فإنَّهُ يَحْرُمُ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ، لِقَوْلِهِ ﷺ فِي الذَّهَبِ وَالحَرِيرِ: "إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي، حِلٌّ لِإِنَاثِهَا". فَإِنِ اضْطُرَّ إِلَيْهِ جَازَ، لِمَا رُوِيَ: أَنَّ عُرْفَجَةَ بْنَ أَسْعَدَ أُصِيبَ أَنْفُهُ يَوْمَ الكلاب، فَاتَّخَذَ أَنْفًا مِنْ وَرِقٍ فَأَنْتَنَ عَلَيْهِ، فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ ﷺ أَنْ يَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ. وأمَّا المُضَبَّبُ بالفِضَّةِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ: فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: إِنْ كَانَ قَلِيلًا لِلْحَاجَةِ، لَمْ يُكْرَهْ، لِمَا رَوَى أَنَسٌ: أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ ﷺ انْكَسَرَ، فَاتُّخِذَ مَكَانَ الشَّفَةِ سِلْسِلَةٌ مِنْ فِضَّةٍ. وَإِنْ كَانَ لِلزِّينَةِ، كُرِهَ، لِأَنَّهُ غَيْرُ مُحْتَاجٍ إِلَيْهِ، وَلَا يُحَرَّمُ، لِمَا رَوَى أَنَسٌ: كَانَ نَعْلُ سَيْفِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ فِضَّةٍ، وَقَبِيعَةُ سَيْفِهِ فِضَّةٌ، وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ حَلَقُ فِضَّةٍ. وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا لِلْحَاجَةِ، كُرِهَ لِكَثْرَتِهِ، وَلَمْ يُحَرَّمْ لِلْحَاجَةِ. وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا لِلزِّينَةِ، حُرِّمَ، لِقَوْلِ ابْنِ عُمَرَ: "لَا يَتَوَضَّأُ وَلَا يَشْرَبُ مِنْ قَدَحٍ فِيهِ حَلْقَةٌ مِنْ فِضَّةٍ أَوْ ضَبَّةٌ مِنْ فِضَّةٍ". وَعَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: أَنَّهَا نَهَتْ أَنْ تُضَبَّبَ الأَقْدَاحُ بِالْفِضَّةِ. وَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ قَالَ: يَحْرُمُ فِي مَوْضِعِ الشُّرْبِ، لِأَنَّهُ يَقَعُ الاسْتِعْمَالُ بِهِ، وَلَا يَحْرُمُ فِيمَا سِوَاهُ، لِأَنَّهُ لَا يَقَعُ بِهِ الاسْتِعْمَالُ. وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: يُكْرَهُ وَلَا يُحَرَّمُ، لِحَدِيثِ أَنَسٍ فِي سَيْفِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.

Posting Komentar untuk "Syawir putri || Fathul Qarib || Bab Tembelan emas dan perak || Kantor pusat putri || 24 Juli 2025"